Bicara Tentang Membicarakan Cinta

Cheesy, murahan, ngebosenin.

Itu komentar yg sering muncul dari non-cewek-ABG atau cewek-ABG-yg-tidak-umum tentang film, novel, lagu-lagu tentang cinta atau lawan katanya, benci.

Mungkin kalo film/novel/lagu itu ngangkat topik yg klise, dengan kemasan yg juga klise, komentar itu masih wajar diterima.

Tapi yg bikin gue gemes, orang-orang kadang terlalu berlebihan nanggepin topik ‘cinta’. Baru lihat judul film, atau hanya karena lirik lagu yg romantis, mereka langsung dengan gampangnya ngomong ‘cheesy’ dan ngeremehin yg mereka sebut cheesy itu.

Baru-baru ini gue selesai baca buku terbarunya Raditya Dika, Marmut Merah Jambu. Beda dengan buku-buku sebelumnya, Raditya Dika jadi lebih ‘jujur’ di sini. Di buku ini topik utama yg diangkat itu pengalaman jatuh cinta, dan dikemas oleh Raditya Dika dengan unsur komedinya yg khas. Tapi, yg bikin gue terkesan, di buku ini banyak hal-hal yg inspiratif, meskipun temanya hal yg sangat klise: cinta.

Sebagai manusia, emang hal yg berkaitan dengan cinta ga bisa kita hindari. Segala hal, pasti ada sangkut-pautnya dengan cinta. Dan otomatis itu berarti juga berkaitan dengan lawan katanya: benci. Semua hal di hidup kita pasti ada sangkut-pautnya dengan cinta dan benci.

Orang-orang yg menciptakan film/novel/lagu, yg gue sebut dengan seniman, pasti mengangkat topik yg ada kaitannya dengan kehidupan, dalam bentuk apapun, fiksi sekalipun. Ga bisa kita sangkal, karena memang itu yg selalu kita jalani. Seperti yg udah gue tulis tadi, segala hal dalam kehidupan pasti ada sangkut-pautnya dengan cinta/benci, entah kepada sesama manusia, alam, negara, Tuhan, atau kehidupan itu sendiri.

Dengan sekian banyak karya yg mengagumkan di bidang film, sastra, ataupun musik, apa masih bisa kita menyebut topik cinta/benci itu murahan? Dengan sekian banyak karya yg mengagumkan, yg pasti mengandung unsur cinta/benci, apa masih bisa dengan mudahnya kita menyebut karya-karya itu murahan, dan seenaknya meremehkan seniman-seniman itu?

Dan maaf, bagi gue, orang-orang yg dengan mudahnya menilai karya orang lain itu murahan hanya karena topik utama yg diangkat itu cinta/benci, tanpa alasan yg jelas, tanpa mengetahui dengan jelas karya tersebut, cuma orang-orang yg mau sok keren.

Yah, gue sendiri juga masih anak-anak, masih belom tau banyak tentang kehidupan, tentang cinta/benci. Gue cuma sebel sama orang-orang yg terlalu sensi sama karya orang lain hanya karena karya orang tersebut mengangkat genre romance. Tapi bagaimana cara kalian memandang karya orang lain, masih terserah kalian.

Oke, gue pamit dulu. Salam!

3 Omelan:

wibowo 28 Juni 2010 10.35  

talking about love is never ending. all can only be felt but can not see: D
love is the best gift that is owned by a human. and her loss will be someone that does not make perfect
interesting article:) behind it awaited the visit and comment

seniman muda 28 September 2011 00.21  

bagus koq...
buka blog ane jga dng,komentar yah dan gabung jadi sahabat ane http://senimanmuda17.blogspot.com/2011/09/cinta-dan-benci.html ...
baca artikel" ane yang lain jga... ^.^

by salam seniman muda

Ucing! 30 Januari 2012 12.02  

betul, hidup gak bisa lepas dari cinta. cinta adalah dasar kehidupan ini #aish ya gak apa-apa sih beda prinsip, asal saling menghargai, termasuk besa prinsip dalam memandang cinta ^^

Peringatan

Membaca blog ini tidak akan menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin

P.S. : Best viewed with Mozilla Firefox